LAMAN BICARA, Bulik - Gelombang penolakan terhadap rencana pembangunan pabrik kelapa sawit oleh PT Permata Inti Sawit (PIS) di Desa Melata terus menguat. Warga secara tegas menyatakan penolakan keras karena lokasi pabrik dinilai terlalu dekat dengan kawasan pemukiman dan berpotensi menimbulkan dampak serius.
Daftar Isi
- Protes Warga dan Kekhawatiran Lingkungan
- Tuntutan Masyarakat dan Harga Mati
- Respons Perusahaan dan Masa Depan
Protes Warga dan Kekhawatiran Lingkungan
Dalam aksi di depan baliho hasil Musdes, perwakilan warga menyampaikan kekhawatiran mendalam. Mereka khawatir dampak lingkungan dan sosial dari kehadiran pabrik kelapa sawit akan mengganggu ketenangan hidup.
Lokasi rencana pembangunan hanya berjarak sekitar 400 meter dari pemukiman dan sarana ibadah. Kedekatan ini dianggap sebagai ancaman langsung terhadap kenyamanan dan kesehatan warga.
Suara dari Masyarakat
"Kami sampaikan kepada PT PIS, jangan coba-coba membangun pabrik di area pemukiman masyarakat," tegas salah satu perwakilan warga. "Di sini ada gereja, ada perumahan warga. Kami tidak ingin ketenangan dan lingkungan kami rusak."
Tuntutan Masyarakat dan Harga Mati
Penolakan terhadap PT PIS juga disertai seruan tegas bagi perusahaan lain yang berniat masuk. Warga menuntut agar setiap investor menghormati aturan dan kedaulatan masyarakat setempat.
Tuntutan utama mencakup tiga poin penting. Investor harus menaati seluruh regulasi yang berlaku, menghargai hukum adat Dayak, dan tidak merugikan ruang hidup masyarakat tanpa persetujuan.
Komitmen untuk Masa Depan
Warga menegaskan bahwa penolakan ini merupakan harga mati. Tujuannya adalah menjaga kelestarian lingkungan dan masa depan generasi mendatang di Desa Melata.
Aksi ditutup dengan pekikan slogan adat "Adil Ka' Talino, Bacuramin Ka' Saruga, Basengat Ka' Jubata". Slogan ini menjadi simbol solidaritas dan keteguhan hati masyarakat adat dalam mempertahankan tanah mereka.
Respons Perusahaan dan Masa Depan
Hingga saat ini, belum ada pernyataan resmi dari pihak PT Permata Inti Sawit (PIS). Perusahaan belum memberikan tanggapan terkait penolakan masif yang dilakukan oleh warga Desa Melata.
Keheningan dari pihak perusahaan menimbulkan tanda tanya besar. Masyarakat menunggu respons yang jelas mengenai rencana pembangunan pabrik kelapa sawit yang kontroversial ini.
Konflik ini menyoroti pentingnya dialog dan partisipasi masyarakat dalam pembangunan. Keberlanjutan lingkungan dan penghormatan terhadap hak warga harus menjadi prioritas utama.