AS-Israel Serang Iran: Di Mana Posisi Rusia dan China?
Serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada Sabtu (28/02) telah memicu gelombang ketegangan baru di Timur Tengah. Perhatian dunia kini tertuju pada dua sekutu utama Teheran, yaitu Rusia dan China. Keduanya memiliki hubungan diplomatik, perdagangan, dan militer yang erat dengan Republik Islam Iran.
Konflik terbaru ini menjadi ujian nyata bagi seberapa jauh Moskow dan Beijing bersedia memberikan dukungan kepada Iran. Respons mereka akan sangat menentukan dinamika geopolitik kawasan dan dunia.
Daftar Isi
- Dukungan Rusia: Retorika Lantang, Sokongan Terbatas
- Strategi China: Menahan Diri, Menjaga Kepentingan
Dukungan Rusia: Retorika Lantang, Sokongan Terbatas
Respons Moskow terhadap serangan AS-Israel terdengar keras, namun dukungan konkretnya tetap terbatas. Sikap ini mencerminkan kemarahan terhadap aksi Washington dan Tel Aviv, sekaligus solidaritas dengan Teheran, tetapi dengan kehati-hatian agar tidak terseret langsung ke dalam konfrontasi.
Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, menyatakan "kekecewaan mendalam" dan mengecam "agresi tanpa provokasi" terhadap Iran. Presiden Vladimir Putin bahkan menyampaikan belasungkawa atas tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.
Kepentingan Nasional di Atas Segalanya
Namun, Kremlin menghindari kritik langsung terhadap Presiden AS Donald Trump. Ketika ditanya tentang kepercayaan terhadap Washington, Peskov menegaskan bahwa Rusia "pada dasarnya hanya mempercayai dirinya sendiri". Kepentingan nasional menjadi penjelasan mengapa dukungan Rusia terhadap Iran lebih banyak bersifat retoris.
Rusia tengah sibuk dengan perang di Ukraina dan tampak enggan—bahkan mungkin tak mampu—memberikan lebih dari sekadar dukungan diplomatik. Perjanjian kemitraan strategis Rusia-Iran yang ditandatangani awal 2025 pun tidak sampai menjadi pakta pertahanan bersama.
Hubungan Ekonomi dan Militer
Nilai perdagangan kedua negara relatif terbatas, berkisar antara US$4-5 miliar. Meski begitu, ikatan militer terus berkembang dengan rencana pengiriman sistem pertahanan udara dan pesawat tempur. Namun, ketergantungan Rusia pada senjata Iran, seperti drone Shahed, telah berkurang seiring ekspansi produksi domestik.
Bagi Moskow, Iran terlalu penting untuk dibiarkan runtuh, tetapi tidak cukup penting untuk diperjuangkan habis-habisan. Untuk saat ini, intervensi Rusia tampaknya akan tetap terbatas pada retorika.
Strategi China: Menahan Diri, Menjaga Kepentingan
Pemerintah China mengecam keras pembunuhan Ayatollah Ali Khamenei. Secara historis, Beijing memang menentang strategi perubahan rezim yang dijalankan Amerika Serikat. Namun, inti hubungan China-Iran adalah kemitraan ekonomi yang saling menguntungkan.
China merupakan mitra dagang terbesar Iran sekaligus pelanggan energi terpentingnya. Meski Iran bertahun-tahun digempur sanksi berat AS, Beijing tetap menjadi penopang utama ekonomi Teheran dengan membeli minyak dalam jumlah besar melalui jaringan "ghost fleets".
Pendekatan Penuh Perhitungan
Secara historis, pendekatan China terhadap ketegangan Iran-Israel dan Iran-AS adalah strategi menahan diri yang penuh perhitungan. Dalam pertikaian-pertikaian sebelumnya, Beijing secara konsisten menyerukan "menahan diri" sambil menyalahkan "campur tangan eksternal"—sindiran jelas terhadap kebijakan AS.
Dalam bentrokan Iran-Israel sebelumnya, China berperan sebagai penyokong diplomatik bagi Teheran dengan menggunakan hak veto di PBB. Namun, Beijing tidak pernah menawarkan intervensi militer langsung. Strategi Tiongkok bertujuan membuat AS tetap terjebak di Timur Tengah, tanpa memicu keruntuhan total kawasan yang bisa melambungkan harga minyak dunia.
Kepentingan Geopolitik Jangka Panjang
Bagi Beijing, munculnya rezim pro-Barat di Teheran akan menjadi kekalahan geopolitik besar. Iran bukan hanya pemasok energi, tetapi juga penyeimbang signifikan terhadap pengaruh AS di kawasan. Iran merupakan anggota BRICS dan SCO, sekaligus penghubung geografis penting.
Runtuhnya Republik Islam Iran berpotensi melemahkan kredibilitas mekanisme multilateral yang selama ini coba diperkuat Moskow dan Beijing. Tanpa invasi penuh AS-Israel, struktur politik dan militer Iran kemungkinan besar masih akan bertahan.
Beijing, seperti biasa, akan memainkan "strategi jangka panjang", yaitu berusaha menjalin hubungan baik dengan siapa pun yang kelak memimpin Iran. Sementara itu, Rusia akan mencari peluangnya sendiri. Posisi Rusia dan China dalam konflik ini tetap menjadi faktor krusial yang akan mempengaruhi perkembangan situasi di Timur Tengah.